Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima

Minggu, 12 Oktober 2025

BUKAN AKU TAPI KRISTUS
不再是我乃是基督
(Galatia 2:19-20)

 

“Sebab aku telah mati oleh hukum Taurat untuk hukum Taurat, supaya aku hidup untuk Allah. Aku telah disalibkan dengan Kristus; namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku.”

Salah satu pertanyaan terpenting dalam hidup Kristen adalah:”Siapa yang menjadi pusat hidupku?” Secara alami, kita cenderung menjawab, “Aku.” Keinginan, ambisi, dan kenyamanan kitalah yang menjadi raja. Namun, dalam dua ayat yang sangat dalam ini, Rasul Paulus menyatakan sebuah revolusi identitas: “Bukan aku, tetapi Kristus.” Ini bukan sekadar slogan religius, melainkan sebuah pernyataan faktual tentang siapa kita sekarang.

  1. Aku telah disalibkan dengan Kristus (Ayat 19a, 20a)
    Kata “telah” menunjukkan suatu peristiwa yang sudah selesai. Ketika Kristus disalibkan, “aku” yang lama—yaitu ego, dosa, dan hidup yang berpusat pada diri sendiri—juga turut disalibkan dan dihukum mati. Ini adalah anugerah keselamatan yang kita terima melalui iman. Kematian ini memutuskan rantai kuasa “hukum Taurat” (usaha membenarkan diri sendiri) dan kuasa dosa. Hidup lama kita sudah selesai.
  2. Namun aku hidup, bukan lagi aku sendiri (Ayat 20b)
    Ini adalah paradoks yang indah. Kita mati, tetapi justru hidup. Bagaimana bisa? Karena yang hidup sekarang bukan lagi “aku” yang lama, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku. Kristus menjadi sumber hidup, motivasi, dan tujuan kita yang baru. Identitas kita yang sejati sekarang adalah “di dalam Kristus.”
  3. Hidup oleh iman dalam Anak Allah (Ayat 20c)
    Bagaimana praktiknya? Kita hidup dengan bergantung sepenuhnya (iman) pada Kristus yang telah mengasihi dan menyerahkan diri-Nya bagi kita. Setiap hari, kita berkata, “Bukan kehendakku, tetapi kehendak-Mulah yang jadi.” Iman inilah yang mengalirkan kasih dan kuasa-Nya untuk kita jalani dalam keseharian.

 

Pertanyaan untuk direnungkan:

  1. Di area mana (keluarga, pekerjaan, pelayanan) “keakuan” saya masih paling sering berkuasa?
  2. Langkah praktis apa yang bisa Anda ambil minggu ini untuk lebih hidup bergantung pada Kristus dan mempersembahkan hidup bagi-Nya di area tersebut?
Follow us: