Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima

Minggu, 11 Januari 2026

IBADAH YANG DIKUDUSKAN
潔净敬拜
Matius 23:23-28

 

Dalam Injil Matius 23, Yesus menegur orang Farisi dan ahli Taurat yang tekun dalam ritual tetapi mengabaikan hal yang lebih penting.

Berkaitan dengan perkembangan ibadah masa kini, banyak orang terjebak pada formalitas ibadah lahiriah yang tidak menyentuh hati.

Bila kita menengok di masa Abraham dan Musa ibadah dibangun karena relasi bukan rutintas. Ibadah yang dibangun karena respon syukur bukan kewajiban. Karena mereka sudah menerima yang terbaik dari Allah.

Tetapi berjalannya waktu, fokus, prioritas dan motivasi ibadah mulai bergeser bukan lagi kepada Tuhan, tetapi kepada ritual, aturan, kewajiban sebagai orang Kristen yang tampaknya benar namun tidak berkenan kepada Tuhan.(ibadah yang tercemar, tidak kudus), sehingga perlu kita perbarui atau dikuduskan.

Kita juga perlu memahami makna ibadah. Arti Ibadah  (KBBI): Pernyataan bakti yang diwujudkan melalui ketaatan pada aturan Tuhan dan pelaksanaan ritual  keagamaan.

Kata Ibadah, dalam etimologi Ibrani memiliki makna bukan sekedar saat kita berada di tempat ibadah (gereja) tapi bagaimana kita menghambakan diri setiap saat kepada Tuhan kita. (Pengabdian hati bukan sekedar ritual luar).

Ibadah yang dikuduskan meliputi:

  1. Prioritas atau Fokus yang dikuduskan. Yaitu ibadah yang berfokus kepada Allah.
  2. Motivasi (hati) yang dikuduskan.
  3. Perbuatan yang dikuduskan yaitu perbuatan yang berintegritas.

 

Pertanyaan untuk direnungkan:

  1. Apa yg menjadi prioritas atau fokus kita saat kita beribadah; TUHAN atau diri sendiri?
  2. Apa yang menjadi motivasi kita saat ibadah atau melayani?
  3. Menurut Anda apakah hasilnya dari ibadah yang sudah diperbarui atau dikuduskan?
Follow us: