Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 08 Februari 2026
KASIH KEPADA YANG BERBEDA
愛那些與我們不同的
(Lukas 10:25-37)
Seorang ahli Taurat bertanya kepada Yesus tentang bagaimana ia bisa mendapat hidup yang kekal. Percakapan itu mengerucut pada hukum yang terutama: mengasihi Tuhan dan mengasihi sesama. Namun, si penanya berusaha membatasi dan mengamankan posisinya dengan pertanyaan lanjutan: “Dan siapakah sesamaku manusia?”
Yesus menjawabnya dengan sebuah cerita yang mengguncang. Seorang musafir dirampok, dipukuli, dan ditinggalkan setengah mati. Seorang imam dan seorang Lewi, para tokoh agama yang seharusnya memahami hukum kasih, justru melewati korban itu. Mereka mungkin takut menjadi najis, terlambat karena ada urusan ibadah, atau mungkin takut terlibat masalah. Mereka memilih kesalehan ritual di atas belas kasihan nyata.
Lalu, muncul seorang Samaria. Di mata orang Yahudi, orang Samaria adalah orang yang berbeda, disingkirkan, dan dianggap sesat secara teologis dan kotor secara etnis. Mereka adalah “musuh” atau setidaknya “orang asing” yang hina. Namun, dialah yang berhenti. Rasa iba yang tulus menggerakkannya. Dia tidak hanya memberi pertolongan pertama, tetapi membawa korban ke penginapan, merawatnya, dan bahkan membayar semua biaya dengan jaminan akan menambahnya jika kurang.
Pesan Yesus jelas: Kasih tidak mengenal batas. Sesama kita bukan hanya mereka yang segolongan, seiman, atau seasal dengan kita. Sesama kita adalah setiap orang yang kita temui dalam kebutuhan, terlepas dari suku, agama, status sosial, atau sejarah permusuhan di antara kita.
Kasih sejati mengalahkan prasangka. Orang Samaria itu melihat bukan “musuh” atau “orang yang berbeda,” melainkan “sesama manusia yang terluka.” Kasihnya aktif, praktis, dan mengorbankan waktu, tenaga, bahkan uang. Ia mengubah “mereka” yang asing menjadi “kita” yang harus dikasihi.
Mari kita renungkan sejenak: Dalam hidup kita, kita sering menjadi seperti imam dan Lewi, sibuk dengan urusan dan agenda kita sendiri, atau membiarkan prasangka dan ketakutan menghalangi kita untuk mengasihi. Yesus memanggil kita untuk menjadi seperti orang Samaria yang murah hati yang melihat kebutuhan, tergerak oleh belas kasihan, dan bertindak nyata, bahkan kepada mereka yang paling berbeda dengan kita.
Pertanyaan untuk diskusi kelompok:
- Dalam konteks masyarakat Saudara saat ini, siapakah “orang Samaria” dan “orang yang terluka di pinggir jalan” itu? (Pikirkan tentang orang yang mungkin saudara pandang rendah, berbeda keyakinan, atau memiliki latar belakang konflik dengan saudara. Siapakah yang mungkin saudara hindari untuk dikasihi?)
- Tindakan konkret apa yang dapat saudara lakukan minggu ini untuk menunjukkan kasih yang aktif dan tanpa prasangka kepada seseorang yang “berbeda” dengan saudara? (Ini bisa berupa perhatian sederhana, mendengarkan tanpa menghakimi, atau membantu dalam kebutuhan praktis, meski itu mengganggu kenyamanan dan jadwal saudara).