Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 15 Februari 2026
KASIH: PERINTAH YANG MEMBEBASKAN
愛:得自由的命令
(1 Petrus 4:8-11)
“Selamat merayakan Tahun Baru Imlek dengan penuh sukacita, Tuhan Yesus memberkati para PKS dan seluruh anggotanya”
Seringkali kita mendengar kata “perintah” atau “hukum” sebagai sesuatu yang mengekang, membatasi ruang gerak kita. Kita membayangkan sederet aturan yang harus dituruti, dan jika dilanggar, ada konsekuensinya. Namun, firman Tuhan hari ini membalikkan paradigma tersebut. Petrus berbicara tentang kasih sebagai perintah utama, tetapi justru perintah inilah yang membawa kita pada kemerdekaan sejati.
Mengapa kasih disebut sebagai perintah yang membebaskan?
- Kasih menutupi banyak dosa (ayat 8): Ayat ini berkata, “Kasih menutupi banyak sekali dosa.” Ini tidak berarti kasih membuat dosa menjadi tidak terlihat atau menggampangkannya. Artinya, ketika kita hidup dalam kasih, kita tidak lagi menjadi budak dari dendam, kepahitan, dan keinginan untuk membalas sakit hati. Kasih membebaskan kita dari beban masa lalu yang menghancurkan. Kasih memberi kita kemampuan untuk mengampuni, seperti Kristus telah mengampuni kita. Itulah kemerdekaan.
- Kasih mewujud dalam pelayanan (ayat 9-10): Perintah untuk saling memberi tumpangan tanpa bersungut-sungut dan melayani dengan karunia yang kita terima adalah undangan untuk keluar dari penjara keegoisan. Ketika kita hanya fokus pada diri sendiri, kita menjadi terkungkung oleh keinginan, masalah, dan ambisi pribadi. Namun, ketika kita melayani orang lain, kita mengalami kebebasan untuk menjadi berkat. Kita menyadari bahwa hidup kita bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi adalah saluran kemurahan Allah bagi sesama. Itulah kemerdekaan.
- Kasih memuliakan Allah (ayat 11): Puncak dari kebebasan adalah ketika kita tidak lagi terikat pada pujian atau pengakuan manusia. Petrus mengingatkan bahwa ketika kita berkata-kata atau melayani, kita harus melakukannya “untuk memuliakan Allah dalam Yesus Kristus.” Ini membebaskan kita dari tekanan untuk tampil sempurna di mata manusia. Kita tidak lagi menjadi budak dari opini orang lain. Kita bebas melakukan yang terbaik karena kita melakukannya untuk Tuhan, Sang Pemilik kehidupan.
Jadi, “kasih yang membebaskan” ini bukanlah perasaan yang datang dan pergi, melainkan komitmen aktif yang lahir dari kesadaran bahwa kita lebih dulu dikasihi dan dibebaskan oleh Allah di dalam Kristus.
Mari kita hidup dalam perintah kasih ini, dan rasakan kebebasan sejati yang Dia berikan.
Dua Pertanyaan Refleksi:
- Dari “penjara” emosi negatif apakah Anda perlu dilepaskan saat ini? Adakah dendam, sakit hati, atau kekecewaan terhadap seseorang yang masih membelenggu hati Anda? Bagaimana kasih yang menutupi banyak dosa dapat membebaskan Anda hari ini untuk mengampuni, sama seperti Anda telah diampuni?
- Apakah Anda melayani karena kewajiban atau karena kerinduan untuk menjadi saluran kasih yang membebaskan? Renungkanlah cara Anda melayani di rumah, di tempat kerja, atau di gereja. Apakah pelayanan Anda terasa seperti beban atau justru menjadi ekspresi sukacita karena Anda tahu itu adalah cara Allah memakai Anda untuk menjadi berkat dan memuliakan nama-Nya?