Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 22 Februari 2026
KEAGUNGAN HUKUM KASIH
律法之愛最偉大
(Matius 22:34–40)
Di tengah berbagai aturan dan perdebatan agama, Yesus menyingkapkan inti iman yang sejati: kasih. Dalam Matius 22:34–40, orang Farisi mencoba menjebak Yesus dengan pertanyaan, “Hukum manakah yang terutama?” Dari 613 perintah Taurat menurut tradisi rabinik, mana yang paling penting? Namun Yesus tidak terjebak. Ia merangkum seluruh Taurat dan kitab para nabi dalam dua hukum: kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama.
1. Kasih kepada Allah adalah Fondasi Segalanya
Yesus mengutip Ulangan 6:5, yang mengajarkan umat untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa, dan akal budi. Ini bukan sekadar emosi, tetapi totalitas hidup: pikiran, kehendak, prioritas, dan keputusan. Kasih kepada Allah menempatkan Dia sebagai pusat, bukan sekadar tambahan dalam hidup. Pertanyaannya mengenai prioritas bukan hanya soal “Apakah saya percaya kepada Tuhan?”, tetapi “Apakah Tuhan diizinkan hadir dalam segala hal di hidup saya?” Prioritas waktu, uang, relasi, dan ambisi kita menunjukkan siapa yang kita kasihi. Kasih kepada Allah harus nyata dalam ketaatan dan penyembahan yang konsisten, bukan hanya di hari Minggu.
2. Kasih kepada Sesama adalah Bukti Nyata
Yesus mengutip Imamat 19:18 dan menggabungkannya dengan kasih kepada Allah. Inilah keagungan hukum kasih: keduanya tidak terpisahkan. Di sinilah kita menemukan keagungan dari hukum kasih, yaitu karena Anak Allah, yaitu Yesus Kristus yang yang memberikannya bagi kita. Kasih kepada Allah tanpa kasih kepada sesama adalah kepalsuan rohani. Begitu pula sebaliknya, mengasihi sesama, tanpa kasih kepada Allah adalah dapat menjadi racun bagi diri kita sendiri. Mengasihi sesama berarti melampaui batas kenyamanan, suku, status, dan kepentingan pribadi. Kasih bukan sekadar “tidak menyakiti,” tetapi aktif berbuat baik. Komunitas Kristen dipanggil untuk menjadi ruang di mana orang mengalami penerimaan, pengampunan, dan perhatian nyata.
3. Gereja sebagai “Pandochei” – Pondok bagi yang Terluka
Dalam Lukas 10:34–35, pemilik penginapan (pandochei) menerima dan merawat orang yang terluka. Kata ini berarti “menerima semua.” Gambaran ini menunjukkan gereja sebagai tempat hospitalitas radikal, yang menerima, merawat, dan memulihkan. Gereja dan keluarga Kristen dipanggil menjadi “pondok” bagi yang lelah dan terluka. Kasih mungkin menuntut pengorbanan waktu, tenaga, bahkan biaya. Namun di situlah hukum kasih menjadi nyata. Bukan sekedar teori, melainkan tindakan.
Pertanyaan Diskusi Komsel:
- Dalam praktik sehari-hari, bagaimana kita dapat mengetahui bahwa Tuhan benar-benar menjadi prioritas utama hidup kita?
- Apakah ada orang atau kelompok yang sulit kita kasihi? Mengapa?
- Bagaimana komsel atau gereja kita dapat menjadi “pondok” yang menerima dan memulihkan mereka yang terluka?