Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 18 Januari 2026

POLA PIKIR YANG DILURUSKAN
調正心態
Kolose 3:1-4

 

Pada masa Perang Dunia II, seorang komandan pasukan Amerika di Eropa menugaskan tentaranya untuk menembus wilayah musuh yang penuh ranjau dan tembakan artileri. Di tengah kekacauan dan suara ledakan, seorang prajurit muda tampak tetap tenang, berjalan dengan langkah mantap, dan matanya selalu tertuju ke arah bendera di puncak bukit — tempat markas komando mereka berada.

Temannya bertanya dengan gemetar, “Bagaimana kamu bisa tetap tenang dan tidak kehilangan arah di tengah perang seperti ini?”

Prajurit itu menjawab dengan mantap, “Selama aku masih melihat bendera itu berkibar di atas bukit, aku tahu ke mana aku harus melangkah. Aku tidak melihat peluru, aku melihat tujuanku.”

Dan benar — ketika banyak prajurit kehilangan arah dan tersesat, dia tiba di garis depan dengan selamat, karena pikirannya tertuju bukan pada bahaya, tetapi pada arah yang benar.

 

Demikian pula dengan kehidupan rohani kita. Dunia ini seperti medan perang: ada godaan, tekanan, dan penderitaan. Jika kita fokus pada “peluru” — masalah, ambisi, atau ketakutan — kita akan tersesat.

Namun bila pikiran kita terarah kepada Kristus yang duduk di sebelah kanan Allah, kita akan tetap tenang dan melangkah di jalan yang benar.

 

Kristus adalah bendera rohani kita, tanda arah yang tidak pernah berubah. Selama mata dan pikiran kita tertuju kepada-Nya, kita tidak akan kehilangan arah, sekalipun dunia bergejolak.

 

Surat Kolose ditulis oleh Rasul Paulus ketika ia berada dalam penjara di Roma (sekitar tahun 60–62 M). Kota Kolose terletak di Asia Kecil (sekarang wilayah Turki), sebuah kota kecil namun strategis di jalur perdagangan. Jemaat Kolose tidak didirikan langsung oleh Paulus, melainkan oleh muridnya, Epafras (Kol. 1:7). Masalah utama jemaat Kolose adalah munculnya ajaran sinkretisme, Legalisme Yahudi (aturan makanan & hari raya) — filsafat Yunani/ Asakese (penyiksaan diri utk mencapai kesucian) dan Gnostik, yang mengajarkan: penyembahan malaikat, ritual, serta pengetahuan rahasia, yang menurunkan posisi Kristus dari pusat iman menjadi sekadar salah satu “makhluk rohani”.

Secara teologis, Paulus menulis surat ini untuk menegaskan supremasi Kristus — bahwa Ia adalah gambar Allah yang tidak kelihatan, kepala dari segala ciptaan (Kol. 1:15–20). Hanya Kristus yang menjadi pusat kehidupan baru.

 

Karena itu, di pasal 3 Paulus menekankan bahwa hidup orang percaya harus ditata ulang dari dasar: mulai dari pola pikir yang diluruskan.

1. Pola Pikir yang Terarah pada Kristus

“Carilah perkara yang di atas, di mana Kristus ada, duduk disebelah kanan Allah…” (Kol. 3:1)

Kata “carilah” (Yunani: ζητεῖτε – zēteite) adalah bentuk present imperative, artinya “teruslah mencari” secara berulang. Paulus menegaskan: pola pikir Kristen bukan sikap pasif, melainkan tindakan aktif untuk mengarahkan hidup kepada Kristus yang memerintah di sebelah kanan Allah.

Makna teologisnya jelas: kita telah “dibangkitkan bersama Kristus” . Artinya, identitas lama kita telah mati, dan kini kita hidup dalam dimensi sorgawi di mana Kristus berkuasa, Galatia 5:24,   (Ibr. 12:2) Mengajarkan fokus yang konsisten kepada Kristus di tengah perjuangan hidup.

Aplikasi:

  • Hidup yang terarah ke atas tidak mengabaikan dunia, tetapi menempatkan dunia dalam perspektif kekekalan.
  • Dalam mengambil keputusan dipekerjaan, relasi, dan pelayanan, tanyakan: Apakah ini sejalan dengan perkara di atas?
  • Pikiran yang terarah kepada Kristus akan menjaga hati dari iri, khawatir, dan ambisi yang salah.

John Stott: “Ketika Kristus menjadi pusat pikiran kita, dunia kehilangan kuasanya untuk menawan kita.”

 

2. Pola Pikir yang Diperbaharui oleh Roh Kudus

“Pikirkanlah perkara yang di atas, bukan yang di bumi.” (Kol. 3:2)

Kata “pikirkanlah” (Yunani: φρονεῖτε – phroneite) berarti menetapkan pandangan hidup, membentuk cara berpikir. Paulus menegaskan bahwa transformasi hidup dimulai dari transformasi pikiran.

Dalam konteks Kolose, jemaat diserang oleh filsafat dunia yang menurunkan nilai Kristus. Maka Paulus menegakkan satu prinsip penting: pikiran yang diluruskan hanya mungkin bila Kristus menjadi pusatnya.  (Efesus 4:23–24) Menegaskan hubungan antara pembaharuan pikiran dan karakter ilahi.

Aplikasi:

  • Dunia mengajarkan: “Aku bahagia kalau aku punya banyak HARTA KEKAYAAN.”
  • Kristus mengajarkan: “Aku bahagia karena aku punya Kristus.”
  • Dunia berkata: “Pegang kendali hidupmu sendiri.”
  • Kristus berkata: “Serahkan kendali hidupmu kepada-Ku.”

Latih pikiran kita lewat firman setiap hari. Firman adalah kompas yang meluruskan arah pikiran dan hati kita.

(Martin Luther)
“Ketika Roh Kudus memperbaharui pikiran kita, maka seluruh hidup akan mengikuti arah baru. Pikiran yang benar menuntun pada hidup yang benar.”

 

3. Pola Pikir yang Berfokus pada Kristus yang Akan Datang

“Apabila Kristus, yang adalah hidup kita, menyatakan diri kelak, kamu pun akan menyatakan diri bersama dengan Dia dalam kemuliaan.” (Kol. 3:4)

Kata “menyatakan diri” (Yunani: φανερωθῇ – phanerōthē) berarti terungkap atau dinyatakan secara nyata. Paulus mengarahkan jemaat pada parousia — kedatangan Kristus kembali.

Ia menegaskan bahwa Kristus bukan sekadar bagian dari hidup kita, tetapi Dialah hidup kita sendiri.

Pola pikir yang berfokus pada kedatangan Kristus membuat kita hidup dengan nilai kekekalan, bukan kesementaraan.  (1 Yohanes 3:2–3) Menegaskan bahwa pengharapan kepada Kristus menuntun pada kemurnian hidup.

Aplikasi:

  • Orang yang pikirannya tertuju pada kekekalan akan tetap setia, meski tidak dilihat orang.
  • Dalam penderitaan, kita sadar bahwa semua itu mempersiapkan kemuliaan yang kekal (Roma 8:18).
  • Jemaat yang menatap kemuliaan Kristus akan berjuang melayani dengan hati yang murni dan tekun.

Aiden Willson Tozer: “Orang yang menatap kekekalan akan menemukan arah yang benar untuk hidup hari ini.”

 

Penutup:

Ilustrasi: “Kisah Sang Pangeran yang Terbuang”

“Sebagai penutup, saya ingin menceritakan sebuah ilustrasi tentang seorang pangeran yang diculik sejak bayi dan dibesarkan di pemukiman kumuh sebagai pengemis. Selama bertahun-tahun, ia berpikir bahwa identitasnya adalah seorang pengemis. Ia makan dari sisa sampah dan tidur di tanah. Pola pikirnya adalah pola pikir pengemis: ‘Bagaimana saya bisa makan hari ini?’

Suatu hari, raja menemukan pangeran itu dan membawanya kembali ke istana. Namun, ada satu masalah besar: Meskipun dia sudah memakai jubah kerajaan, dia masih mencoba menyembunyikan sisa makanan di bawah tempat tidurnya dan gemetar ketakutan setiap kali melihat penjaga istana. Dia berada di istana, tapi pikirannya masih di tempat kumuh.

Raja berkata kepadanya, ‘Anakku, luruskan pikiranmu. Kamu bukan lagi pengemis. Kamu adalah putra raja. Seluruh kekayaan istana ini adalah milikmu.’

Banyak dari kita seperti pangeran itu. Kita sudah diselamatkan oleh Kristus (posisi kita di istana), tetapi pikiran kita masih sering ‘mengemis’ pengakuan dari dunia, ‘mengemis’ rasa aman dari uang, dan takut akan hari esok.

 

Mari kita bangkit! Buang pola pikir pengemis itu, dan mulailah berpikir sebagai anak-anak Raja Sorgawi. Sebab hidupmu sudah tersembunyi bersama Kristus di dalam Allah.

“Amin.”

 

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Bagaimana pola pikir Anda selama ini yang masih perlu diluruskan?
  2. Bagaimana firman Tuhan mengubah pola pikir Anda selama ini?
Follow us: