Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 25 Januari 2026

RELASI YANG DIMURNIKAN
純净關係
(Yohanes 13:31–35)

 

Dunia hari ini bergerak ke arah “survival of the fittest”: yang bertahan bukan yang paling benar, melainkan yang paling kuat menguasai sumber daya dan memaksakan kehendaknya. Logika ini perlahan masuk ke dalam relasi sosial, bahkan ke dalam gereja. Di tengah realitas yang gelap ini, Yesus memberikan sebuah “perintah baru” yang radikal: saling mengasihi seperti Ia mengasihi. Inilah fondasi relasi yang dimurnikan.

  1. Yesus Menempatkan Relasi sebagai Identitas Murid

Perintah Yesus dalam Yohanes 13:34–35 disampaikan dalam konteks malam—simbol pengkhianatan, kegelapan, dan penolakan. Justru di saat relasi dikhianati oleh Yudas, Yesus menegaskan bahwa kasih adalah tanda otentik murid-Nya. Kasih ini bukan perasaan, melainkan komitmen relasional yang mencerminkan kasih Kristus sendiri.

Dalam komunitas, kasih bukan sekadar keramahan, tetapi kesediaan tetap mengasihi saat dikecewakan, disalahpahami, atau dirugikan. Komsel bukan tempat orang sempurna, melainkan ruang latihan kasih Kristus yang nyata.

  1. Dosa Merusak dan Mencemari Relasi

Sebagai gambar dan rupa Allah (imago Dei), manusia diciptakan untuk berelasi. Namun kejatuhan dalam dosa mengubah relasi dari saling melengkapi menjadi saling menguasai. Keinginan untuk mengontrol, mendominasi, dan membenarkan diri menggantikan ketergantungan dan kepercayaan.

Kita perlu jujur melihat bagaimana dosa muncul dalam relasi: manipulasi, diam yang menyakitkan, atau spiritualitas yang dipakai untuk menghakimi. Pemulihan relasi dimulai dari pertobatan, bukan pembenaran diri.

  1. Relasi yang Dimurnikan sebagai Perintah Baru

Yesus menyapa murid-murid dengan sebutan “anak-anak-Ku”—bahasa keluarga, bukan institusi. Ia mendefinisikan ulang komunitas iman sebagai relasi kasih, bukan hierarki kuasa. Seperti Adam kehilangan tulang rusuk demi persekutuan, Kristus kehilangan nyawa-Nya demi memulihkan relasi kita dengan Allah dan sesama.

Relasi yang dimurnikan selalu mengandung harga: ego yang disalibkan, hak yang dilepaskan, dan kasih yang berkorban. Gereja dipanggil menjadi ruang aman yang memulihkan martabat, bukan arena persaingan rohani.

 

Pertanyaan Diskusi:

  1. Dalam pengalaman Anda, bagaimana pola “survival of the fittest” (yang kuat yang akan bertahan) memengaruhi relasi di gereja atau komunitas?
  2. Bagian mana dari relasi Anda yang paling membutuhkan pemurnian oleh kasih Kristus?
  3. Langkah konkret apa yang bisa kita lakukan sebagai komsel untuk mempraktikkan kasih yang berkorban, bukan menguasai?
Follow us: