Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 14 Desember 2025
SEMUA KARENA ANUGERAH ALLAH
一切都是主恩典
Lukas 1:26-38
Ketika malaikat Gabriel menyampaikan kabar kepada Maria bahwa ia akan mengandung Anak Allah, respons Maria mencerminkan kebingungan dan kerendahan hati: “Bagaimana hal itu mungkin terjadi?” (ayat 34). Ia bukan seorang putri raja atau perempuan berpengaruh, melainkan seorang gadis biasa dari Nazaret—sebuah kota yang tidak terkenal. Justru dari latar belakang yang biasa inilah, anugerah Allah dinyatakan. Kabar itu bukan karena jasa, kedudukan, atau kesalehan Maria, tetapi semata-mata karena anugerah dan kedaulatan Allah.
Allah memilih Maria bukan karena ia layak, tetapi karena kemurahan hati-Nya. Anugerah Allah tidak pernah bergantung pada kapasitas manusia, melainkan pada kuasa dan rencana-Nya. Kata-kata Gabriel, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil” (ayat 37), menegaskan bahwa segala sesuatu dalam rencana keselamatan bergantung pada karya Allah, bukan usaha manusia. Maria pun menyadari hal ini dengan jawabnya yang sederhana namun penuh penyerahan: “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; terjadilah padaku menurut perkataanmu” (ayat 38).
Dalam kehidupan kita, seringkali kita berpikir bahwa kita harus menjadi “hebat” atau “sempurna” terlebih dahulu untuk dipakai Tuhan. Nas ini mengingatkan kita bahwa Allah bekerja justru melalui kerendahan hati dan keterbukaan kita terhadap anugerah-Nya. Kita tidak bisa menghasilkan keselamatan atau menjadi berkat karena kekuatan sendiri. Semua dimungkinkan hanya karena anugerah Allah yang bekerja dalam dan melalui kita.
Penerapan
Seperti Maria, kita dipanggil untuk merespons anugerah Allah dengan kerendahan hati dan ketaatan. Ketika kita merasa tidak mampu atau tidak layak, ingatlah bahwa Allah mengubah ketidakmungkinan menjadi mungkin melalui kuasa-Nya. Tugas kita adalah mempercayai firman-Nya dan bersedia menjadi alat di tangan-Nya, sekalipun itu di luar pemahaman atau rencana kita.
Pertanyaan untuk direnungkan:
- Pernahkah Anda merasa tidak layak atau tidak mampu ketika Tuhan menempatkan Anda dalam suatu tanggung jawab atau panggilan? Bagaimana kebenaran “bagi Allah tidak ada yang mustahil” (Lukas 1:37) mengubah perspektif Anda?
- Dalam hal apa saja dalam hidup Anda saat ini yang perlu Anda serahkan kembali kepada kedaulatan dan anugerah Allah, serta berkata “ya” kepada rencana-Nya, sekalipun mungkin belum Anda mengerti sepenuhnya?
“Anugerah Allah memilih kita, kuasa-Nya menyanggupkan kita, dan kedaulatan-Nya memakai kita untuk kemuliaan nama-Nya.”