Shalom, jemaat yang terkasih.

Belakangan, kita sering mendengar berbagai berita dan menyaksikan beragam persoalan yang terjadi di tengah kehidupan bangsa kita. Baik itu mengenai keadilan, tata kelola pemerintahan, korupsi, kebijakan publik, perpajakan, serta kenaikan harga kebutuhan sehari-hari yang memicu kekhawatiran, kekecewaan, bahkan keresahan di benak kita. Mau tidak mau hal-hal di atas menjadi topik percakapan kita di saat ngopi atau saat bersantai sambil menunggu. Sebagai anak-anak Tuhan, bagaimana seharusnya kita menyikapi berbagai situasi yang sedang terjadi saat ini?

Bersikaplah positif namun juga kritis

Alkitab dengan jujur menggambarkan bahwa persoalan ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan sudah ada sejak jaman dahulu. Kitab Pengkhotbah telah mengingatkan bahwa di tempat pengadilan pun terdapat ketidakadilan, dan bahwa dalam kehidupan pemerintahan terdapat berbagai lapisan kewenangan yang saling mengawasi (Pengkhotbah 3:16; 5:8). Amsal juga mengingatkan bahwa kepemimpinan yang tidak berlandaskan kebenaran dan keadilan akan dapat membawa dampak yang buruk bagi kehidupan suatu bangsa (Amsal 29:4).

Karena itu, apa yang kita saksikan pada masa kini bukanlah sesuatu yang sama sekali baru dalam sejarah manusia. Firman Tuhan tidak mengajarkan kita untuk menjadi putus asa atau kehilangan pengharapan. Firman Tuhan justru mendorong kita untuk memahami realitas dunia dengan jernih dan mempersiapkan kita dalam berespons secara positif, bijaksana, dan penuh kasih.

Apa yang harus kita lakukan?

  1. Berdoalah
    Firman Tuhan mengingatkan bahwa kita dipanggil untuk mendoakan para pemimpin dan semua orang yang memikul tanggung jawab dalam pemerintahan (1 Timotius 2:1-2). Kita berkewajiban mendoakan mereka agar Tuhan memberikan hikmat, kebijaksanaan, dan hati yang takut akan Dia serta dapat menjalankan tanggung jawabnya secara baik dan akuntabel. Kita dapat pula mendoakan agar setiap kebijakan yang diambil sungguh-sungguh diarahkan pada keadilan dan kesejahteraan untuk masyarakat secara luas dan bukan hanya bagi sebagian orang atau golongan saja.
    Dengan berdoa bukan berarti kita menutup mata terhadap persoalan atau mengabaikan hal-hal yang perlu diperbaiki. Sebaliknya, dengan berdoa menolong kita untuk menyampaikan pergumulan kita kepada Tuhan sambil menjaga hati agar tidak dikuasai oleh kebencian, kemarahan, atau kepahitan. Di tengah derasnya suara di ruang publik dan media sosial yang sedang membahana, doa mengingatkan kita bahwa Tuhanlah yang berdaulat atas negeri ini.
  1. Taatlah kepada Allah
    Alkitab mengajarkan kita untuk menghormati dan menaati pemerintah serta menjalankan tanggung jawab kita sebagai warga negara yang baik (Roma 13:1-7). Benar, sikap hormat tersebut merupakan bagian dari kehidupan yang tertib dan bertanggung jawab sebagai warga negara sekaligus orang percaya. Benar pula, kita diajarkan untuk taat kepada pemerintah dan pemimpin yang ditentukan oleh Allah. Namun, ketaatan kepada pemerintah bukanlah ketaatan yang tanpa batas. Para rasul memberi teladan bahwa ketika manusia meminta kita melakukan sesuatu yang bertentangan dengan kehendak Allah, maka kita harus lebih mengutamakan untuk menaati Allah daripada kepada manusia (Kisah Para Rasul 5:29).
    Ya, kita dipanggil untuk setia kepada Allah dan tetap berdiri dalam kebenaran dengan sikap yang rendah hati, bijaksana, dan tegas. Terlebih lagi, kesetiaan kepada Allah bukan diwujudkan melalui sikap kasar atau penuh permusuhan, melainkan melalui keberanian dan kebenaran di hadapan Allah dan sesama.
  1. Jadilah terang di tempat kita berada
    Kita bukan dipanggil untuk hanya mengeluh mengenai keadaan, melainkan kita juga dipanggil untuk ambil bagian dalam menghadirkan kebaikan. Iman yang hidup akan selalu nampak melalui perbuatan yang nyata (Matius 5:13-16).
    Karena itu, marilah kita memulainya dari diri sendiri dengan berlaku jujur dalam memenuhi kewajiban kita sebagai warga negara. Menjalankan tanggung jawab perpajakan dengan benar, menolak praktik suap, tidak menyalahgunakan kepercayaan atau jabatan, serta memperlakukan sesama dengan adil dan penuh kasih.
    Nabi Mikha juga telah memberikan nasihat kepada kita agar selalu berlaku adil, mencintai kesetiaan, dan hidup dengan rendah hati di hadapan Allah (Mikha 6:8). Perubahan yang baik dapat dimulai dari hal-hal kecil dan sederhana yang bisa kita lakukan setiap hari. Ketika orang percaya hidup dalam kejujuran, integritas, kasih, dan keadilan, maka kita sedang menjadi terang dan berdampak bagi masyarakat di tempat kita berada.

Tetaplah berharap kepada Allah yang berdaulat

Pengharapan kita tidak terutama diletakkan pada perubahan politik, pergantian kepemimpinan, atau siapa yang sedang memegang kekuasaan. Pengharapan kita berakar pada Allah yang berdaulat dan tetap memegang kendali atas sejarah serta kehidupan manusia.

Keyakinan kita berlandaskan pada Doa Bapa Kami yang berkata; “Datanglah kerajaan-Mu, jadilah kehendak-Mu di bumi seperti di surga”. Sementara menantikan penggenapan itu, kita tetap dipanggil untuk menghormati pemerintah, menjalankan tanggung jawab sebagai warga negara, serta berpartisipasi secara bijaksana dalam kehidupan di masyarakat.

John Calvin yang mengajarkan tentang doktrin Two Kingdoms (dua kerajaan, yaitu bahwa Allah memerintah seluruh dunia melalui dua jenis pemerintahan yang berbeda dan terpisah yaitu, pemerintahan rohani; gereja dan pemerintahan duniawi; negara). Artinya pemerintahan sipil tetap memiliki tempat dalam tatanan pemeliharaan Allah. Karena itu, orang percaya tidak dipanggil untuk bersikap apatis terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara. Kita justru dipanggil untuk secara aktif tetap peduli; dengan berdoa, menjalankan tanggung jawab dengan baik, serta menyuarakan kebenaran dan keadilan dengan cara yang bijaksana, penuh kasih, dan bertanggung jawab. Iman Kristen tidak mengajarkan sikap tidak peduli dengan persoalan bangsa, tetapi sebaliknya mendorongnya untuk hadir di tengah masyarakat sebagai pembawa damai, kebenaran, dan pengharapan yang sejati.

Penutup

Marilah kita sikapi situasi bangsa ini dengan hati yang mengasihi dan pikiran yang jernih. Janganlah larut dalam amarah, kepahitan, atau pun caci maki. Sebaliknya, marilah kita menggunakan waktu dan kesempatan yang Tuhan berikan untuk terus berdoa. Bersyukur kita masih diberi kesempatan untuk hidup, berusaha dan bekerja di sini sambil menjalankan tanggung jawab kita dengan baik dan tetap giat melakukan apa yang baik bagi sesama (Galatia 6:9).

Tetaplah sabar dan tenang, sebab Tuhan tetap pegang kendali. Di tengah berbagai perubahan dan ketidakpastian, kedaulatan-Nya tetap tak tergoyahkan. Dan damai sejahtera Kristus, yang melampaui segala akal, kiranya senantiasa memelihara hati dan pikiran kita (Filipi 4:7).

Marilah kita selalu menyerahkan kekhawatiran kita kepada Tuhan, karena hanya Dialah pengharapan kita dan di mana pun kita berada selalu menjadi berkat bagi keluarga, gereja, masyarakat dan bangsa tercinta.

Di tengah peringatan ulang tahun kemerdekaan bangsa kita yang ke-81 ini, marilah kita berdoa agar Tuhan terus memimpin Indonesia dan memberikan hikmat kepada para pemimpin, terjaganya kesatuan dan persatuan, ditegakannya keadilan, dan dibawa-Nya bangsa kita menuju kehidupan yang semakin baik, damai, adil, dan sejahtera.

Kiranya Tuhan memberkati bangsa Indonesia.

Salam damai Kristus.

Pdt. Ang Tjoe Mio (Daniel Cahya Mulyanto)

Follow us: