Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 18 Oktober 2026
MENJADI SUARA BAGI YANG TAK BERSUARA
為無言者的聲音
(Amsal 31:1–9)
Di dunia ini, banyak orang tidak memiliki kesempatan untuk menyuarakan isi hati dan memperjuangkan haknya. Ada orang miskin yang diabaikan, orang lemah yang ditindas, dan orang yang mengalami ketidakadilan tetapi tidak berani berbicara karena takut menghadapi konsekuensinya.
Amsal 31:1–9 merupakan nasihat seorang ibu kepada Raja Lemuel, anaknya, agar ia tidak menyalahgunakan kekuasaan, melainkan menggunakan kedudukannya untuk menegakkan keadilan dan membela mereka yang lemah.
Firman Tuhan ini mengingatkan kita bahwa hidup bukan hanya tentang memperjuangkan kepentingan diri sendiri. Tuhan memanggil kita untuk menjadi berkat bagi sesama, terutama mereka yang tidak memiliki kekuatan untuk membela dirinya sendiri. Ada tiga hal yang dapat kita pelajari melalui nas ini untuk kita bersedia menjadi suara bagi mereka yang tidak bersuara.
1. Jangan Egois (Ayat 3–5)
Ibu Raja Lemuel memperingatkan anaknya agar tidak menghabiskan kekuatan dan kehidupannya untuk hal-hal yang merusak dirinya serta mengaburkan tanggung jawabnya sebagai raja. Ia harus menjaga diri agar tidak kehilangan kemampuan untuk memimpin dengan bijaksana.
Sikap egois muncul ketika seseorang hanya memikirkan kepentingan, kenyamanan, dan keuntungan dirinya sendiri tanpa memedulikan dampaknya terhadap orang lain. Bahkan, seseorang dapat menggunakan jabatan dan pengaruhnya untuk memenuhi ambisi pribadinya, sementara orang-orang yang dipercayakan kepadanya justru menderita, tertekan dan kehilangan hak-hak mereka.
Sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk keluar dari kehidupan yang berpusat pada diri sendiri. Tuhan memberikan kemampuan, kesempatan, dan sumber daya bukan hanya untuk dinikmati sendiri, tetapi juga untuk menjadi berkat bagi orang lain.
Marilah kita mengevaluasi cara kita menjalani kehidupan. Apakah kita hanya memikirkan apa yang menguntungkan diri sendiri, atau kita juga mempertimbangkan kebutuhan orang lain? Jangan sampai kesibukan mengejar keberhasilan pribadi membuat kita tidak peka terhadap penderitaan sesama.
2. Bela yang Lemah (Ayat 8–9)
Ayat 8 berkata, “Bukalah mulutmu untuk orang yang bisu, untuk hak semua orang yang merana.” Selanjutnya, ayat 9 memerintahkan agar kita membuka mulut, mengadili dengan adil, dan memberikan keadilan kepada orang yang tertindas dan miskin.
Orang yang disebut “bisu” dalam konteks ini menggambarkan mereka yang tidak mampu menyuarakan kepentingannya sendiri. Mereka mungkin tidak memiliki kuasa, uang, kedudukan, atau keberanian untuk memperjuangkan haknya.
Firman Tuhan tidak menghendaki kita menjadi penonton ketika ketidakadilan terjadi. Ketika kita memiliki kesempatan untuk berbicara, kita dipanggil untuk menggunakan suara itu demi membela mereka yang tidak berdaya.
Membela yang lemah tidak berarti membenarkan semua tindakan mereka tanpa pertimbangan. Sebaliknya, kita harus berpihak pada kebenaran dan keadilan, mendengarkan dengan saksama, serta bertindak dengan bijaksana.
Jika Anda melihat seseorang dirundung/dibuli, diperlakukan tidak adil, atau menjadi korban fitnah, jangan terburu-buru ikut menghakimi atau memilih diam demi kenyamanan diri sendiri. Dengarkan, berikan dukungan, dan lakukan sesuatu yang benar untuk menolongnya. Terkadang, satu perkataan yang berani dan tepat dapat menjadi pertolongan besar bagi seseorang yang sedang terpuruk.
3. Ikuti Yesus
Yesus Kristus memberikan teladan sempurna tentang bagaimana kita seharusnya memperlakukan sesama. Ia tidak hanya memperhatikan orang-orang yang berpengaruh, tetapi juga mendekati mereka yang tersisih, menyembuhkan yang sakit, menerima mereka yang ditolak, dan menunjukkan belas kasihan kepada orang banyak.
Dalam pelayanan-Nya, Yesus tidak hidup untuk kepentingan diri sendiri. Ia datang untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Markus 10:45). Bahkan, di kayu salib, Ia menyerahkan diri-Nya demi keselamatan manusia yang berdosa.
Mengikuti Yesus berarti belajar memiliki hati seperti hati-Nya. Kita tidak cukup hanya mengagumi kasih-Nya atau mendengarkan ajaran-Nya. Kita dipanggil untuk meneladani kasih itu melalui tindakan nyata, termasuk ketika kita harus mengorbankan waktu, tenaga, kenyamanan, bahkan kepentingan pribadi demi menolong sesama.
Tanyakan kepada diri sendiri, bagaimana Yesus akan memperlakukan orang yang sedang saya hadapi? Apakah saya akan mengabaikannya, menghakiminya, atau mendekatinya dengan kasih dan kebenaran? Mulailah dengan melakukan satu tindakan kasih yang nyata kepada seseorang yang membutuhkan pertolongan Anda.
Kesimpulan
Menjadi suara bagi yang tidak bersuara dimulai dengan tiga sikap sederhana tetapi mendasar: jangan egois, bela yang lemah, dan ikuti Yesus.
Jangan egois, karena hidup kita bukan hanya tentang diri sendiri. Bela yang lemah, karena Tuhan menghendaki keadilan bagi mereka yang tidak mampu memperjuangkan haknya. Ikuti Yesus, karena Dialah teladan utama dalam mengasihi, melayani, dan menyerahkan diri bagi sesama.
Dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang pandai berbicara, tetapi juga orang-orang yang berani berbicara demi kebenaran. Dunia tidak hanya membutuhkan orang-orang yang mengaku mengasihi, tetapi juga orang-orang yang bersedia bertindak ketika melihat penderitaan.
Kiranya melalui perkataan, keputusan, dan tindakan kita, orang-orang yang selama ini tidak didengar dapat menemukan pertolongan, pengharapan, dan keadilan.
Jangan biarkan suara Anda hanya digunakan untuk membela kepentingan diri sendiri. Gunakanlah suara Anda untuk menyatakan kasih Kristus kepada mereka yang tidak bersuara.
Dua pertanyaan untuk direnungkan
- Apakah Anda selama ini lebih banyak memikirkan kepentingan diri sendiri, atau sudah menggunakan waktu, kemampuan, dan pengaruh Anda untuk menolong orang lain yang membutuhkan?
- Siapakah di sekitar Anda yang sedang mengalami ketidakadilan atau tidak memiliki keberanian untuk menyuarakan haknya, dan tindakan nyata apa yang dapat Anda lakukan untuk membelanya dengan kasih Kristus?