Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 06 September 2026
BUKA MATA, NYALAKAN HATI
睜開眼目, 開啓心扉
(Matius 9:35-38)
“Demikianlah Yesus berkeliling ke semua kota dan desa; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Sorga serta melenyapkan segala penyakit dan kelemahan. Melihat orang banyak itu, tergeraklah hati Yesus oleh belas kasihan kepada mereka, karena mereka lelah dan terlantar seperti domba yang tidak bergembala. Maka kata-Nya kepada murid-murid-Nya: ‘Tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit. Karena itu mintalah kepada Tuan yang empunya tuaian, supaya Ia mengirimkan pekerja-pekerja untuk tuaian itu.'”
(Matius 9:35-38)
Mengapa Yesus Tergerak?
Yesus melihat. Bukan sekadar melihat dengan mata, tetapi melihat dengan hati. Ia melihat orang banyak yang lelah, terlantar, dan tersesat seperti domba tanpa gembala. Dan di situlah terjadi sesuatu yang luar biasa: hati-Nya tergerak oleh belas kasihan.
Kata Yunani yang digunakan di sini adalah SPLAGKHNIZOMAI (σπλαγχνίζομαι) (cara bacanya: splangnizomai).
Memahami Belas Kasihan yang Sejati
Dalam bahasa Yunani, ada tiga tingkatan kepedulian yang sering kita campuradukkan:
- Simpati (Sympatheia)
Simpati adalah “turut merasakan dari luar”.
Saya melihat Anda sedih, lalu saya berkata, “Kasihan ya, semoga cepat membaik.” Saya turut sedih, tapi saya tetap di tempat saya. Simpati seringkali berhenti di kata-kata.
- Empati (Empatheia)
Empati adalah “merasakan apa yang Anda rasakan”.
Saya masuk ke dalam perasaan Anda. Saya ikut merasakan kesedihan atau penderitaan Anda seolah-olah itu milik saya. Ini lebih dalam dari simpati. Tapi empati pun bisa berhenti di perasaan tanpa tindakan nyata.
- Splagkhnizomai – Belas Kasihan Sejati
Splagkhnizomai adalah “perut bergetar” atau “tergerak sampai ke dalam lubuk hati”.
Bayangkan seorang ibu yang melihat anaknya jatuh dan menangis. Ia tidak hanya merasa kasihan (simpati). Ia tidak hanya membayangkan sakitnya anak itu (empati). Ia berlari, memeluk, mengobati, dan melakukan segalanya untuk meringankan rasa sakit anaknya. Itulah splagkhnizomai.
Ini adalah belas kasihan yang MENGERAKKAN TANGAN, bukan hanya menggerakkan perasaan. Ini adalah kepedulian yang berubah menjadi TINDAKAN.
Yesus tidak hanya berkata, “Kasihan mereka” atau “Saya mengerti perasaan mereka.” Ia turun dan bertindak. Ia mengajar, menyembuhkan, dan kemudian menggerakkan murid-murid-Nya untuk menjadi pekerja di ladang tuaian.
Tiga Langkah Praktis Menerapkan Belas Kasihan
- BUKA MATA: Melihat seperti Yesus
Berhentilah sejenak dari kesibukan kita. Perhatikan orang-orang di sekitar. Rekan kerja yang tampak letih. Tetangga yang sedang sakit. Anak yang tampak kesepian. Belas kasihan dimulai ketika kita berhenti berpura-pura tidak melihat.
- BERTINDAK DENGAN TINDAKAN NYATA
Banyak dari kita tergerak namun berhenti sampai di sana. Belaskasihan tergerak hati dan bergerak untuk menolong, mengasihi, memberi dan mendampingi bila diperlukan.
- BERITAKAN INJIL
Belaskasihan yang sejati menjawab kebutuhan yang paling mendasar manusia yaitu keselatan jiwa yang lelah, telantar, tak bergembala, kesepian dan yang sedang mencari makna hidup.
Dua pertanyaan untuk direnungkan
- Pernahkah saya melihat penderitaan orang lain, tetapi memilih untuk berpaling karena “itu bukan urusan saya”? Kapan terakhir kali saya benar-benar tergerak hingga bertindak?
- Apa yang mencegah saya untuk memiliki belas kasihan yang nyata? Apakah itu kesibukan, ketakutan, ketidakpedulian, atau mungkin kebiasaan hanya berempati tanpa bertindak?
Penutup
Yesus tidak memanggil kita untuk menjadi penonton yang simpatik, atau pendengar yang empatik. Ia memanggil kita untuk menjadi orang-orang yang hatinya pecah dan tangannya bergerak. Ladang tuaian luas dan siap. Masih banyak jiwa yang lelah dan terlantar.
Mari kita buka mata kita. Nyalakan hati kita. Dan jadilah pekerja yang siap menuai bersama-Nya.