Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 12 Juli 2026
BERTUMBUH KE ARAH DIA
走向基督
(Efesus 4:11-16)
Paulus mengingatkan kita bahwa segala karunia, jabatan, dan pelayanan yang ada di dalam gereja tidak pernah bertujuan untuk memuliakan manusia atau membangun kerajaan pribadi. Semuanya diberikan untuk satu tujuan: mengarahkan kita kepada Dia, Sang Kepala, yaitu Kristus.
Ayat 15 dengan tegas menyatakan: “tetapi dengan teguh berpegang kepada kebenaran di dalam kasih, kita bertumbuh di dalam segala hal ke arah Dia, Kristus, yang adalah Kepala.”
Pertumbuhan rohani kita bukanlah tentang seberapa sibuk kita dalam kegiatan gereja, seberapa lama kita berdoa, atau seberapa luas pengetahuan Alkitab kita. Pertumbuhan yang sejati diukur dari seberapa dekat langkah kita dengan-Nya. Apakah pelayanan yang kita lakukan selama ini membawa kita semakin intim dengan Kristus, atau justru membuat kita sibuk melayani tanpa sempat duduk di kaki-Nya?
Ayat 14 mengingatkan bahwa tanpa arah yang jelas kepada Dia, kita akan “diombang-ambingkan oleh berbagai angin pengajaran” dan “tipu daya manusia”. Ketika kita tidak memiliki poros yang kokoh pada Kristus, kita mudah goyah oleh pendapat orang lain, tren rohani, atau bahkan pencapaian kita sendiri. Tetapi ketika mata kita tertuju kepada-Nya, kita akan berbicara kebenaran dalam kasih (ayat 15), karena kita mengenal sumber kasih itu sendiri.
Kepenuhan Kristus haruslah menjadi tujuan akhir kita. Bukan kepenuhan karisma, bukan kepenuhan pengetahuan, melainkan kepenuhan diri-Nya sendiri yang tergambar dalam hidup kita. Dari Dia-lah seluruh tubuh menerima pertumbuhan (ayat 16). Segala sesuatu yang baik dalam hidup kita bersumber dari-Nya dan harus kembali kepada-Nya.
Marilah kita periksa kembali kompas kehidupan kita. Ke mana arah pertumbuhan kita hari ini? Semoga kita semakin hari semakin dekat, semakin serupa, dan semakin terarah kepada Dia, Sang Kepala. Ke arah Dia. Amin.
Dua Pertanyaan untuk direnungkan
- Dalam kesibukan pelayanan, pekerjaan, dan rutinitas rohani Anda saat ini, apakah arah pertumbuhan Anda benar-benar menuju Kristus, ataukah Anda justru sibuk membangun “menara” kesalehan pribadi yang membuat Anda merasa cukup tanpa benar-benar membutuhkan Dia setiap hari?
- Ketika Anda menghadapi perbedaan pendapat, konflik, atau ajaran yang membingungkan di sekitar Anda, apakah respons Anda—baik perkataan maupun sikap hati—dilakukan dalam kebenaran dan kasih untuk mengarahkan Anda semakin dekat kepada Kristus, ataukah Anda cenderung merespons dengan cara duniawi yang justru menjauhkan Anda dari wajah-Nya?