Bahan Komsel GKJ Jembatan Lima
Minggu, 30 Agustus 2026

MEMBERITAKAN KRISTUS YANG MENDERITA
傳揚受難的基督
(1 Korintus 1:23–24)

 

Paulus berkata dengan sangat tegas: “Tetapi kami memberitakan Kristus yang disalibkan.” Berita ini bukanlah berita yang populer pada zamannya. Bagi orang Yahudi, Kristus yang disalibkan merupakan σκάνδαλον (skandalon)—batu sandungan. Mereka mengharapkan Mesias yang datang dengan kuasa, kemenangan, dan pembebasan seperti Daud, tetapi Yesus justru datang dalam kerendahan hati dan mati di kayu salib. Salib tidak sesuai dengan ekspektasi mereka tentang bagaimana Allah seharusnya menyelamatkan umat-Nya.

Bagi orang Yunani, salib adalah μωρία (mōria)—kebodohan atau sesuatu yang absurd. Mereka mencari hikmat, logika, dan rasionalitas. Gagasan tentang Allah yang menyatakan diri melalui manusia yang menderita dan mati di kayu salib tidak masuk akal bagi mereka. Justin Martyr menggambarkan bagaimana orang-orang non-Kristen memandang iman kepada Kristus yang disalibkan sebagai sesuatu yang gila. Bahkan dalam budaya Romawi, salib merupakan bentuk hukuman yang sangat hina dan memalukan. Graffito Alexamenos menjadi salah satu bukti bahwa iman kepada Kristus yang disalibkan pernah menjadi bahan ejekan.

Namun benturan itu terus berulang hingga hari ini. Manusia selalu cenderung mencari Allah menurut cara yang sesuai dengan pikirannya sendiri. Dahulu orang Yahudi mencari tanda dan mukjizat, orang Yunani mencari hikmat dan logika. Kini manusia sering mencari Allah melalui kenyamanan, keberhasilan, kesehatan, kekayaan, dan kesuksesan. Kita mudah menginginkan Kristus tanpa salib—kemenangan tanpa pengorbanan dan kemuliaan tanpa penderitaan.

Karena itu Paulus menggunakan kata κηρύσσομεν (kēryssomen)—“kami memberitakan” atau “memproklamasikan.” Gereja bukan pencipta berita Injil, melainkan seperti seorang bentara yang membacakan titah Raja. Tugasnya bukan menambah atau mengurangi, tetapi menyampaikan apa yang telah diperintahkan. Dan berita itu adalah Χριστὸν ἐσταυρωμένον (Christon estauromenon)—“Kristus yang disalibkan.”

Bentuk perfect passive participle menunjukkan bahwa peristiwa salib telah terjadi, tetapi dampaknya terus berlangsung. Kematian Kristus di Golgota terjadi di masa lalu, tetapi pengampunan, pendamaian, keselamatan, dan kuasa salib terus berlaku hingga hari ini dan kekekalan.

Kristus adalah Sang Penyembuh yang Terluka. Ia memahami penderitaan manusia karena Ia sendiri telah mengalami penderitaan dan kehancuran di kayu salib. Karena itu kita dipanggil untuk tiga hal: pertama, menyadari bahwa kita telah disalibkan bersama Kristus; kedua, memikul salib dan mengikuti-Nya dengan rela berkorban dan melayani; ketiga, membawa penghiburan salib kepada dunia yang terluka.

Pada akhirnya, salib membalikkan ukuran dunia: apa yang dianggap sebagai kelemahan ternyata adalah kekuatan Allah; apa yang dianggap kebodohan ternyata adalah hikmat Allah.

“Kristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah.” (1 Korintus 1:24)

 

Pertanyaan untuk direnungkan

  1. Kendala apa yang masih sering kali menghalangi Anda untuk memberitakan Injil?
  2. Melalui firman Tuhan Minggu ini hal apa yang dapat menolong Anda untuk bersemangat memberitakan Injil-Nya?
Follow us: